This movie requires Flash Player 9

Dear Husband

Ibarat prolog dalam sebuah kisah. Begitu pula dengan pragmen masa kecil kita. Suatu masa di mana kita pernah melewati jalanan yang sama untuk ke sekolah, meski tak pernah bersama. Sama-sama belajar di bangunan sekolah yang sama, meski tak pernah duduk dalam satu kelas. Bahkan tak jarang kita tak sengaja bertemu namun hanya beradu pandang.

 

Saat itu, aku hanya tahu namamu dan hafal wajahmu. Karena sesekali, kulihat dirimu berkunjung ke rumah bersama Ayahmu yang kusebut Uwa. Yang kuingat, kita hanya tahu sama tahu tanpa pernah saling mengenal. Jadi wajar, jika sedikit pun tak pernah terbersit namamu di dalam hatiku. Begitu juga namaku di hatimu. Yang sama-sama kita tahu, bahwa pohon keluarga kita berujung pada silsilah yang sama.

 

Dear Husband

Jelang remaja, kita masih belum saling mengenal. Jarak dan waktu belum berpihak pada kita untuk saling bertemu. Dari kampung yang sama, kita melangkah berlainan arah. Menempuh perjalanan untuk menjemput takdir masing-masing. Dan kita tidak tahu bahwa Allah sedang merangkai cerita yang penuh warna, untuk kita mainkan bersama.

Pada episode itu, hidayah Allah menuntunku untuk tetap menjaga hati. Kuhalau segala getaran aneh berbau Virus Merah jambu, dengan alasan bahwa hati ini akan kujaga untuk seseorang yang kelak Allah hadirkan di saat Aqad. Padahal tak pernah terlintas seujung rambut pun, bahwa kelak engkaulah yang Allah datangkan kepadaku.

Benar-benar merasa beruntung, tlah kujaga hati ini dengan terus merenda keyakinan akan janji Allah, bahwa ‘laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik’. Keyakinan yang kurenda itu kujadikan bingkai untuk memagari hati dari sergapan rasa yang tak layak di saat yang belum tepat. Menjadi baik masih dalam tataran proses usaha, tapi Allah sudah mendatangkan dirimu . Maka benarlah adanya jika kedatanganmu yang tiba-tiba, kuanggap sebagai anugrah terindah dalam hidupku.

IMG_8217

Pertemuan singkat yang sanggup menimbulkan getaran aneh itu, ternyata membuat kita punya nyali yang kuat. Begitu kuatnya, hingga membuat kita berani untuk saling mengikatkan hati dalam simpul mitsaqan galidza - Perjanjian yang kuat.

Dear Husband

Tak terasa, hitungan tahun berbilang bulan. Telah kita lalui jalan kebersamaan ini. Engkau terus memimpin dengan bijak dan sabar, hingga mampu kulewati berbagai onak duri dan kerikil. Kau ajari aku cara bersyukur dan membuang segala keluh. Hatimu yang selalu benderang, menyoroti langkahku hingga semua yang kutemui adalah kebaikan. Pikiranmu yang selalu jernih, menjadi cermin yang senantiasa bening untuk berkaca. Bahkan, kakimu yang selalu tegak, telah memberiku alas kaki hingga aku kuat mengeja jengkal demi jengkal kehidupan bernama rumah tangga.

IMG_8595

ummi 5 581

Beribu kelokan telah terlewati, beragam warna kehidupan telah kita lalui. Hingga aku tahu, betapa indahnya caramu mencinta.

Aku bisa pergi ke tempat-tempat yang kuinginkan dengan berbekal anggukanmu, adalah bukti kepercayaan. Dan itu adalah cinta.

Membebaskan kemana saja aku mau, sambil tetap mengontrolku lewat pintu GPS, hingga kau tahu di mana posisiku. Bahkan saat aku kebingungan di belantara Jakarta yang luas. Lalu kau mengarahkan aku lewat selularmu, itu adalah cinta.

Aku menangis, karena kelalaian membuat kendaraanku seperti bibir jontor kejeduk pantat mobil di jalan raya, lalu kau menunjukkan sikap yang penuh pengertian tanpa mengomeliku, itu adalah cinta.

Kau kesal, saat melihatku misuh-misuh dan ngomel nggak jelas, hingga kau perlu megingatkanku dengan caramu, itu adalah cinta.

Kecorobohanku yang ajaib, membuatmu tertawa di tengah segunung rasa kesal, itu adalah cinta.

Jutaan maaf yang tak bosan kau hulurkan atas segala kekonyolan dan sikap lemotku, itu adalah cinta.

Cinta itu terus berbunga dan berbuah. Hingga aku tak sanggup lagi menghitung, ribuan buah yang telah memenuhi hatiku.

Ucapan terima kasihku tak akan pernah habis, atas cinta yang selalu kau limpahkan. Semoga cinta ini pula yang akan menjadi tangga untuk mengantar kita terus berkumpul di dunia dan akhirat.

ummi 5 200

IMG_1052

 

Posted in Diary, Menarik | 11 Comments

Posted in Menarik | Tagged , , | Leave a comment

“Apakah kamu menjadi saksi saat maut akan menjemput Ya’kub, ketika dia berkata kepada anak-anaknya, “apa yang kamu sembah sepeninggalku?”Mereka menjawab, “kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu yaitu Ibrahim, Ismail dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya berserah diri kepada Nya” (Q.S. 2:133)

Maa Ta’buduuna mimbadiy? Apa yang akan kau sembah sepeninggalku? Begitulah pertanyaan Nabi Ya’kub as, terhadap putra-putranya. Tentu saja, sangat boleh jika kita ingin mengajukan pertanyaan serupa pada buah hati kita. Pertanyaan singkat, yang jawabannya harus terealisasi seumur hidup. Continue reading

Posted in Diary | Tagged , , , | 1 Comment

IMG_0377

“Huh, aku memang tak pernah suka musim dingin,” Grace merapatkan selimutnya sambil bersungut-sungut. Wajahnya tampak memerah karena pantulan cahaya api yang menyala di perapian. Tubuhnya yang terbungkus selimut tebal terus meringkuk seperti ulat dalam kepompong.

Grace benci dengan bentangan salju di halaman yang membuatnya serasa berada di dalam freezer. Ia tak lagi bisa bermain dengan bebas. Ia merasa terkekang berada di dalam rumah terus menerus. Apalagi musim dingin kali ini yang disertai badai salju berkali-kali. Continue reading

Posted in Karyaku-Artikel/Cerpen | Tagged , , | Leave a comment

Siang yang terik. Ayah baru saja tiba di rumah.

Biasanya ibu segera membawakan minuman untuk ayah.

Tapi kali ini, adik perempuanku menyerobot. Ia ingin menyuguhkan segelas air putih untuk ayah. Continue reading

Posted in Diary | Tagged , , , | Leave a comment

irma-002

Aku bukan mau menceritakan si Jepri, anak muda yang suka jualan sayur keliling komplek . Atau si Jepri yang suka mangkal di terminal. Apalagi Jepri yang dulu pernah ngincer tanteku semasa gadis. Tapi ini Jepri yang mengikuti jejak Satria Baja hitam, suka berubah wujud. Akulah yang seketika menjadi Jepri begitu keluar melewati pintu rumah dan siap bergulat dengan debu jalanan. Jepri yang wujud aslinya seorang Ibu tiga anak. Sehari-hari menjadi upik abu yang bergelut dengan susuk dan wajan, kain pel dan sapu, juga cucian dan detergen. Juga menjadi guru les yang mengajar anak-anak berbagai pelajaran. Bendahara yang mengatur keluar masuk keuangan. Tak lupa menjadi ibu yang manis dambaan anak-anak. Tapi dominan menjadi ‘Jepri bin Supri’ Jemputan Pribadi alias Supir Pribadi bagi anak-anakku. Continue reading

Posted in Diary | Tagged , | 2 Comments

Ibu, hadirmu bagai seteguk air yang pernah kuminum kala dahaga. Hanya sesaat kureguk kasih sayangmu. Namun, setiap tetesnya sangatlah berarti. Kujadikan bekal untuk tetap melanjutkan perjalanan, mengarungi samudra kehidupan.Tanpa pernah kutahu, kapan aku bisa kembali menikmati tetes demi tetes kasih sayang seperti yang kau berikan. Continue reading

Posted in Diary | Tagged , , | 1 Comment

Semburat merah menebar senyum pada setiap sisi kehidupan, mengabarkan hari yang baru.Senyumnya yang menawarkan kecerian dan kedamaian, menyalakan semangat pada setiap sumbu jiwa. Lalu berjalan tanpa kenal lelah, menyusuri timur sampai ke barat. Tanpa pernah protes apalagi mengeluh dengan tugasnya.

Posted in Diary | Tagged , , | Leave a comment